yaituecoprint dan potensi zat pewarna alami dari tumbuhan. 1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai pewarna alami untuk diaplikasikan pada media kain sutera dengan teknik ecoprint. Manfaat dari penelitian ini yaitu memberikan informasi
Kataeco berasal dari kata ekosistem (alam), sedangkan print adalah pengertian dari mencetak, jadi ecoprint bisa diartikan sebagai teknik memberi pola atau mencetak pada bahan atau kain menggunakan bahan alami (daun, bunga, batang, kulit, dll). Ecoprint merupakan suatu proses mentransfer bentuk dan warna pada permukaan kain (Maharani, 2018:15).
PemanfaatanBahan Alami Untuk Pembuatan Ecoprint (Irmayanti, dkk.) 44 Gambar 1. Penggunaan Daun dan Bunga sebagai bahan alami pembuatan ecoprint Sumber: Saptutyningsih, dkk, 2019 Pada dasarnya, ecoprint telah dikenal sejak dulu, namun ecoprint mengalami peningkatan pesat pada saat ini karena dianggap memiliki nilai ekonomis dan mudah
TEMPOCO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menargetkan ekonomi Indonesia masuk dalam tujuh besar dunia pada tahun 2030. Untuk mencapai hal tersebut, Jokowi mengaku sedang menyiapkan pondasinya saat ini. "Fondasi dalam kita bersaing dengan negara-negara lain harus kita tata dan kita bangun.
. Apa Itu Ecoprint?Bagaimana Sejarah Batik Ecoprint?Apa Saja Jenis Ecoprint?Bahan dan Alat yang DigunakanKeunggulan dan Manfaat Ecoprinting Apa Itu Ecoprint? Contoh gambar motif kain ecoprint. Sebagian dari kita pasti jarang mendengar kata ecoprint. Namun, bagi para pekerja industri tekstil kata ini mungkin merupakan suatu hal yang tak asing lagi. Ecoprint dapat diartikan sebagai teknik mencetak pada kain dengan menggunakan pewarna alami dan membuat motif dari daun secara manual yaitu dengan cara ditempel sampai timbul motif pada kain. Teknik ini merupakan hasil perkembangan dari teknik ecodyeing, yaitu pewarnaan kain dari alam. Indiana Flint pada tahun 2006 mengembangkannya menjadi teknik ecoprint. Ketika itu, Flint menempelkan tanaman yang mempunyai pigmen warna dan menempelkannya pada kain yang berserat alami. Bagaimana Sejarah Batik Ecoprint? Mengutip dari laman teknik pembuatan ecoprint mulai diperkenalkan di negara India awal tahun 2000 oleh India Flint, yaitu daun-daunan ditempet pada kain sutera atau wool kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam steam. Apa Saja Jenis Ecoprint? Contoh jadi dari teknik ecoprint. Dalam proses ecoprint, dikenal dua teknik pewarnaan, yaitu teknik iron blanket dan teknik pounding. Dalam teknik iron blanket, langkah pertama yang dilakukan adalah mordanting pembersihan kain dari kotoran. Proses mordanting ini sama saja seperti mencuci pakaian. Setelah itu, siapkan pewarna dari bahan alam dengan merendam dedaunan dalam larutan cuka. Hal ini bertujuan untuk mengeluarkan zat warna pada dedaunan dengan maksimal. Lalu, setelah pewarna siap, bentangkan kain yang sudah dibersihkan dan tempelkan dedaunan yang sudah direndam dengan larutan cuka. Kemudian, gulung dengan pipa paralon lalu ikat dengan tali. Tahap terakhir, yaitu kukus kain yang telah diikat selama 2 jam. Ads Dalam teknik pounding, proses dan cara pewarnaan kain sedikit berbeda dengan teknik iron blanket. Perbedaanya terletak pada dua tahap paling terakhir. Perbedaan pertama adalah pada teknik iron blanket menggulung kain menggunakan paralon untuk mengeluarkan warna daun pada kain, sedangkan pada teknik pounding memukul daun pada kain menggunakan palu kayu. Perbedaan kedua yaitu pada teknik iron blanket, pengeringan dilakukan dengan mengukus kain selama 2 jam, sedangkan pada teknik pounding proses pengeringan dilakukan dengan menjemur kain langsung di bawah sinar matahari. Bahan dan Alat yang Digunakan Dalam proses pembuatan ecoprint, tidak semua jenis kain bisa dipakai. Hanya kain dari serat alam lah yang bisa digunakan. Kenapa hanya kain dari serat alam? Karena hal itu bertujuan untuk memudahkan penyerapan warna dari daun ke serat-serat benang. Beberapa serat alami yang bisa digunakan antara lain adalah serat kapas serat yang berasal dari biji tanaman ordo Malvales, serat linen serat yang berasal dari tumbuhan rami, dan serat sutra serat yang bersumber dari larva ulat sutra murbei Bombyx mori Serat adalah salah satu bahan utama dari proses pembuatan kain. Dari serat alami di atas, kira-kira kain apa saja yang bisa digunakan untuk pembuatan ecoprint? Kain-kain yang bisa digunakan antara lain adalah kain katun yang bersumber dari serat kapas, kain doby yang bersumber dari serat kapas atau sutra, dan kain katun silk sutra yang bersumber dari perpaduan serat kapas dan serat sutra. Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk membuat batik ecoprint seperti dikutip dari laman yaitu Kain dengan serat alami seperti katun, sutera, atau kanvas, Daun-daunan/bunga, Air cuka, Palu, Campuran air tawas, Pipa peralon, Tali, Panci untuk mengukus. Keunggulan dan Manfaat Ecoprinting Berbicara tentang manfaat ecoprint, mari kita coba lihat kembali definisinya. Teknik ini adalah pewarnaan yang menggunakan bahan alam sebagai bahan bakunya. Oleh karena itu, manfaat dari teknik ini adalah menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Tidak membuat lingkungan tercemar dengan limbah yang dikeluarkan dari pabrik tekstil. Sehingga lingkungan tetap bersih dan lestari. Selain itu, produk yang dihasilkan menghindarkan pengrajin dan konsumen dari gangguan kesehatan yang mungkin bisa didapat dari pewarna buatan. Sebab, bahan-bahan kimia yang terdapat di pewarna buatan dapat mengancam gangguan pernafasan, bahkan keracunan. Penulis Irfan Maulana Dikurasi Oleh Daning Krisdianti Referensi Literatur AlvaniLa. 25 Maret 2019. 8 April 2021. Bayu Wirawan and M. Alvin. “Teknik Pewarnaan Alam Eco Print Daun Ubi Dengan Penggunaan Fiksator Kapur, Tawas dan Tunjung.” LITBANG KOTA PALEMBANG 2019 1-5. Saraswati, Ratna, et al. Pemanfaatan Daun untuk Ecoprint dalam Menunjang Pariwisata. Depok Departemen Geografi FMIPAUI, 2019. Referensi Gambar Gambar 1 dan 2 merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!
› Ekonomi›Misteri Keindahan pada... Bisnis ”ecoprint” di Kota Surabaya, Jawa Timur, terus bergulir seiring bertambahnya pelaku usaha menggeluti pembuatan corak, motif, dan warna khas alami pada lembaran kain. Kompas/Bahana Patria Gupta Perajin batik Didik Edi Susilo kanan dibantu pegawainya menyusun daun dalam proses membuat batik ecoprint di Rumah Kreatif Batik Ecoprint Namira di Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa 2/2/2021.Satu demi satu, daun, bunga, bahkan ranting tanaman diletakkan di atas kain oleh Yayuk Eko Agustin 57, pemilik Namira Ecoprint, bisnis yang dibidani suaminya, Didik Edi Susilo 63, di rumah mereka di Perumahan Wisma Kedung Asem, Kecamatan Rungkut, Surabaya, Minggu 25/4/2021.”Nanti corak dan warna yang akan muncul pada selembar kain setelah direbus tidak ada yang bisa memprediksi. Intinya, hasil dari proses selalu bikin hati berdebar-debar karena penuh misteri,” kata Yayuk, ibu dua anak ini. Motif yang muncul pada lembaran kain selalu sesuai dengan daun, bunga, atau ranting yang diaplikasikan. Namun, gradasi warna yang dihasilkan serta detail bentuknya tak pernah sama. Didik selalu menyebutnya dengan kata ”menakjubkan”.Baca juga Eksplorasi Flora dalam ”Ecoprint” Ecoprint sendiri sebenarnya sebuah teknik mewarnai sebuah kain dan membentuk motif menggunakan bahan alam di sekitarnya berupa daun, bunga, hingga ranting tanaman. Meski menggunakan jenis bahan alami sama, satu produk dengan produk lain yang dihasilkan dari teknik ecoprint tak akan pernah sama. Di sinilah tantangan sekaligus misteri yang mendebarkan sang kreator. Nilai jualnya pun bisa jutaan rupiah dari selembar Patria Gupta Beberapa contoh batik ecoprint yang dihasilkan, Selasa 2/2/2021.Dengan ketelatenan, hampir setiap hari, bahkan hingga larut malam, Didik terus berekspresi dengan menata satu per satu bahan pada selembar kain putih. Mulai daun jati, jarak, berbagai jenis bunga, ranting, bahkan memotong-motong daun pisang sehingga memunculkan corak kotak-kotak. ”Perlu seni untuk menyelaraskan semua daun, bunga, juga ranting agar membentuk corak yang apik,” serupa diungkap pegiat ecoprint Surabaya, Shanty, yang kini giat mendampingi Komunitas Ecoprint Surabaya yang beranggotakan 100 orang. Pengalaman mantan wartawati yang tiga tahun belakangan bergabung dalam Komunitas Ecoprint Surabaya sangat mengesankan karena setiap karya menghasilkan corak dan warna yang tak bisa diprediksi secara tepat.”Paling berkesan jika jejak daun muncul dengan warna yang tajam,” SWETTA PANDIA Karya pelaku usaha ecoprint di Kota Surabaya, Kamis 29/4/2021.Menurut Nita Tjindarbumi 55, pelaku usaha ecoprint, setiap karya yang dihasilkan membuat dirinya lebih dekat dengan alam. Menggarap produk ecoprint, menurut ibu dua anak ini, tidak hanya memantik penggunaan dedaunan, tetapi sekaligus mendorong dirinya lebih giat menanam berbagai macam tanaman untuk kebutuhan ecoprint.”Mengembangkan usaha ecoprint tak sekadar sebagai pengungkit ekonomi, tetapi lebih kuat justru dorongan melestarikan lingkungan. Apalagi saat memetik daun tidak dilakukan sembarangan, sesuai keperluan saja,” kata juga Perajin Batik ”Ecoprint” Surabaya Hal serupa dikemukakan Didik yang menilai setiap hasil ecoprint merupakan karya yang selalu memunculkan kejutan. Penataan tiap daun atau bunga tak boleh dilakukan sembarangan supaya bisa menghasilkan selembar kain dengan komposisi seimbang, baik warna maupun jejak daun.”Faktor ketelatenan dan juga pengetahuan serta pengenalan tentang karakter masing-masing daun sangat diperlukan. Sebab, ada daun jejaknya mengeluarkan warna, tetapi ada daun hanya memunculkan siluet yang luar biasa bagusnya,” tutur Ketua RW V, Kelurahan Kedung Baruk, Rungkut, Patria Gupta Proses membuat batik ecoprint di Rumah Kreatif Batik Ecoprint Namira di Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa 2/2/2021. Dengan memanfaatkan daun-daunan di sekitar bisa dihasilkan produk batik berharga jutaan Anita Tri Susilowati dari Asosiasi Handicrafts Jati, tiga tahun belakangan pelaku usaha yang menekuni ecoprint semakin banyak. Tiap-tiap pelaku memiliki ciri khas pada produknya meski mereka sering berbagi trik atau kiat dalam memproses UKM Ecoprint pun, menurut Anita, rutin menambah pengetahuan agar karya semakin berkualitas karena produk ecoprint kini mulai memiliki pangsa pasar. Bahkan, ecoprint kini tak lagi hanya diaplikasikan pada lembar kain, tetapi juga kulit untuk dibuat tas, dompet, serta barang-barang yang memenuhi selera dunia daun bisa digunakan dalam pewarnaan ecoprint. Namun, tak semua jenis daun bisa digunakan. Biasanya, daun dengan kadar air tinggi, tekstur keras dan tebal tidak bisa dipakai. Untuk mendapatkan karya yang lebih berwarna dan elegan haruslah warna dasar kain, para pegiat ecoprint rata-rata memanfaatkan kayu secang, mahoni, tingi, tegeran, dan jolawe. ”Untuk memperoleh hasil yang semakin baik, jangan pernah lelah melakukan percampuran segala daun, bunga, termasuk ranting,” ujar juga UMKM Surabaya Berdaya Tanpa Melulu Bicara Biaya KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA Berbagai produk pelaku usaha kecil Namira Ecoprint Surabaya dipamerkan pada Jatim Expo 2020 di Grand City, Kamis hingga Sabtu 22-24/10/2020.Bisnis UMKMDemi mendukung keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah UMKM, termasuk kalangan pegiat ecoprint, Pemerintah Kota Surabaya terus memberi dukungan. Pada peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan di Taman Surya, Jumat 30/4/2021, misalnya, Pemkot Surabaya dan Dekranasda Kota Surabaya menggelar acara itu seluruh propertinya merupakan produk pelaku UMKM Surabaya, mulai dari busana, alas kaki, makanan dan minuman, hingga pernak-pernik yang dipakai saat lomba. Lomba yang digelar antara lain membuat kolase, hantaran, suvenir, hingga paling ditunggu adalah lomba peragaan busana menggunakan produk UMKM, antara lain ecoprint, batik, jumputan, dan bordir, dengan para peraga para pejabat pemkot hingga camat di kota dengan penduduk 3,2 juta jiwa SWETTA PANDIA Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Supomo bersama istri memperagakan produk ecoprint, Jumat 30/4/2021, pada peragaan busana dengan memakai produk UMKM Kota Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pejabat di lingkungan Pemkot Surabaya bisa tampil sebagai maskot sekaligus pemasar produk UMKM. Dengan demikian, diharapkan perlahan bisa diikuti warga Surabaya sebagai pasar utama. ”Acara ini hanya sebagai momentum kebangkitan UMKM di kota ini, sekaligus mengajak warga agar lebih mencintai dengan cara membeli produk sesama warga,” kebangkitan UMKM, Pemkot Surabaya memberikan ruang begitu luas, mulai dari belajar menjadi pelaku usaha hingga benar-benar mandiri, termasuk dalam kreativitas bisnis ramah lingkungan seperti PEMKOT SURABAYA Kepala Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat Kota Surabaya Irvan Widyanto bersama istri menjadi peserta peragaan busana yang digelar dalam rangka Hari Kartini di Taman Surya, Jumat 30/4/2021.
Malang, - Dosen Universitas Muhammadiyah Malang UMM Wehandaka Pancapalaga mengembangkan produk tekstil dengan menggunakan bahan ekstrak Mangrove. Hasilnya, dia bisa menciptakan teknik pewarnaan dengan membuat berbagai macam produksi seperti tas, pakaian, hingga sepatu ecoprint menggunakan tanaman mangrove. Wehandaka mengatakan tanaman mangrove bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami ecoprint. Karena ecoprint merupakan salah satu jenis teknik mencetak yang dapat dijadikan alternatif ramah lingkungan yang bisa mengurangi kerusakan lingkungan serta ekosistem akibat limbah kimia pabrik tekstil. Maka dari itu dia melakukan penelitian tanaman mangrove untuk bahan ecoprint."Setelah kami teliti Mangrove bisa dijadikan zat pewarna alami untuk ecoprint," kata Wehandaka, Rabu 7/6/2023. Menurut Wehandaka, ide meneliti Mangrove untuk bahan pewarna alami atau ecoprint muncul sejak tahun 2019. Dari ide itulah, dirinya langsung melakukan penelitian. Bahkan, penelitian yang dilakukannya pun sangat rinci, mulai dari pemilihan bahan hingga proses produksi. Hal itu berefek pada produk yang bagus dan bermanfaat bagi masyarakat. "Hasil dari ekstrak mangrove tidak mudah luntur. Sehingga bagus untuk pewarna," ujarnya. Tanaman mangrove bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami ecoprint. Dia menjelaskan adapun sistem pembakaran yang digunakan, yakni melalui mesin pengukus atau steam yang tingkat panasnya lebih terjamin agar warna yang dihasilkan juga lebih merata. "Suhu yang kami gunakan ada pada rentang 75 derajat dan dikukus selama dua jam. Apabila suhu yang digunakan terlalu tinggi, kulit yang digunakan untuk ecoprint akan rusak. Sementara kalau suhunya terlalu rendah, warna daun dan bunga tidak akan bisa melekat pada kulit,” terangnya. Wehandaka menambahkan dirinya sangat serius mendalami penelitian ecoprint dari tanaman Mangrove. Ini untuk membantu pengrajin kulit di Desa Bululawang yang masih monoton menggunakan warna hitam polos. "Penelitian ecoprint kami ini sedang proses didaftarkan untuk paten sederhana. Namun sembari menunggu, kami juga mengabadikannya dalam beberapa event seperti program matching fund bersama UMKM Bululawang Malang," ucap dia. Wehandaka berharap penelitian mengenai ecoprint dapat diterima baik oleh masyarakat. Dengan harapan bisa membantu pengrajin kulit agar bisa lebih kreatif. Utamanya dalam hal warna, teknik, dan cara yang elbih ramah lingkungan. "Untuk selanjutnya, saya sedang mencoba mengombinasi antara ecoprint dan ukiran agar hasil akhirnya akan seperti daun yang nampak timbul. Sehingga makin terlihat menarik dan bagus," pungkas Wehandaka. Saksikan live streaming program-program BTV di sini Telkomsel Jaga Bumi Tanam Pohon di Kawasan Hutan Mangrove Indonesia NASIONAL HNSI Sebut Hutan Mangrove Berpotensi Tambah PAD NTB NUSANTARA Krakatau International Port Tanam Bibit Mangrove di Karangantu EKONOMI Serentak! Jokowi dan TNI Tanam 1 Juta Pohon Mangrove NASIONAL Tanam Sejuta Pohon Mangrove, TNI Meraih Rekor Muri MEGAPOLITAN IWIP dan Masyarakat Berkolaborasi Lindungi Kawasan Pesisir NUSANTARA
Jakarta - Industri tekstil dikenal sebagai salah satu industri yang paling berdampak pada lingkungan. Banyaknya penggunaan bahan kimia berbahaya, energi yang dihabiskan untuk produksi, dan limbah yang dihasilkan merupakan masalah serius yang perlu diatasi. Menanggapi hal tersebut, industri tekstil kini berinovasi menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya melalui penemuan teknik ecoprint. Ecoprint adalah teknik tekstil yang menghasilkan pola atau gambar pada kain dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti daun, bunga, dan kayu. Menyaksikan Keindahan Ecoprint Batik Cirebon Membentang Sampai Jauh Cerita Yenny Kolaborasi Dengan Penjahit Kembangkan Produk Baru Bernama Ecotik Teknik ini tidak hanya menciptakan pola yang indah dan unik, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan. Founder Studio Kriya Tekstil, Riki Sugianto merupakan salah satu penggiat yang aktif menggelar kelas lokakarya bagi masyarakat yang berminat mempelajari teknik ecoprint. "Keuntungannya udah pasti dia 100 persen ramah lingkungan ya," kata Riki kepada saat diwawancarai pada kegiatan Wisata Rendah Karbon yang diselenggarakan Disparekraf DKI Jakarta, CarbonEthics, Bumi Journey, dan Jakarta Good Guide pada Sabtu, 29 April 2023. Ia melanjutkan, "Kedua juga, dia termasuk ke dalam sustainable karena bahan-bahannya ini kan terbaharui ya, jadi kita nggak merusak. Dan semuanya ini kalau kita buang ataupun hilang atau rusak, dia akan kembali ke alam juga." Riki mengajarkan teknik ecoprint di atas totebag kepada para peserta Wisata Rendah Karbon. "Totebag-nya juga dia akan mengurai. Makanya kita pemilihan bahannya harus yang bener-bener natural fiber, serat alami," jelas Ecoprint Mudah DilakukanFounder Studio Kriya Tekstil, Riki Sugianto menunjukkan hasil teknik ecoprint. Dok. DanieraBerbagai jenis daun dapat digunakan untuk teknik ecoprint. "Sebenarnya semua daun bisa, tapi harus kita coba dulu di kain. Karena nggak semua daun keluar warnanya," jelas Riki. Daun yang motifnya bagus untuk teknik ecoprint adalah daun singkong, daun kenikir, dan daun jati. Teknik ecoprint cukup mudah untuk dipelajari dan dipraktikkan. Pertama, kain atau totebag yang akan dijadikan alas ecoprint ditaruh di atas permukaan yang datar dan kokoh. Kemudian, taruh selembar plastik di bagian dalam totebag, taruh bagian tulang daun supaya menempel di kain dan tutup daun dengan selembar plastik lagi. Bagian penting dari teknik ecoprint adalah memukul daun ke totebag dengan palu yang terbuat dari kayu supaya warna dan motif daun menempel di kain. Menurut Riki, penting juga untuk mengetahui karakteristik daun yang digunakan. "Kenikir ini banyak airnya, kalau ditumbuk akan melebar, warnanya ke mana-mana. Jadi, lebih baik kain dibagi dua supaya warnanya kebagi dua,” ucap Riki sambil mempraktikkan. Setelah memukul daun di atas totebag, plastik penutup dan daun diangkat. Hasilnya akan memperlihatkan motif dan warna hijau daun yang Mengecek Keaslian KainLokakarya ecoprint bersama Studio Kriya Tekstil. Dok. DanieraTerdapat dua jenis totebag yang digunakan dalam kelas lokakarya ecoprint, yang satu berwarna kekuningan karena dicampur dengan tunjung, dan yang satu berwarna putih karena dicampur dengan tawas. "Karena kita menggunakan bahan alami, maka otomatis warnanya akan pudar. Jadi kita butuh ini untuk mengunci warna," ujar Riki. Totebag menggunakan bahan belacu yang warnanya sedikit cokelat buram, sehingga warnanya dibuat lebih cantik dengan membuatnya berwarna kuning atau putih. Menurutnya, tidak semua bahan kain cocok sebagai alas ecoprint. "Ada satu kain yang tidak bagus untuk ecoprint, yaitu drill, yang biasa digunakan untuk celana dan bahan-bahan seragam. Cara kita tau kain yang bagus atau nggak, kalau dibakar," ucap Riki. Teknik ini juga bermanfaat untuk mengetes apakah suatu kain berkualitas bagus atau tidak. Ia pun membakar empat jenis kain yang berbeda. Kain sutra, katun rayon, dan kain linen yang terbuat dari nabati berubah menjadi abu yang halus ketika dibakar. Sementara itu, kain drill hangus dan menjadi keras ketika dibakar. Lokakarya Terbuka Untuk UmumPeserta lokakarya ecoprint dalam kegiatan Wisata Rendah Karbon Disparekraf DKI Jakarta. Dok. DanieraStudio Kriya Tekstil sudah berjalan hampir tujuh tahun membuka kelas-kelas yang berhubungan dengan tekstil, yakni lokakarya ecoprint, shibori, dan tapestry. Mereka juga menjual produk shibori. Usaha yang dibuka sejak 2015 itu memiliki dua studio di Jakarta, yaitu di KANA Furniture, Kemang, dan Kokonut & Curtains di Senayan. "Kalau untuk workshop, kita juga pernah di luar kota, paling jauh itu di Surabaya sama Palembang," jelas Riki. Ia melanjutkan, "Biasanya kita diundang untuk acara-acara Dekranasda ataupun kegiatan-kegiatan perusahaan lainnya." Harga rata-rata kelas lokakarya ecoprint Studio Kriya Tekstil adalah sebesar Namun, dapat lebih murah tergantung jumlah peserta. Dengan harga tersebut, peserta kelas sudah dapat membawa pulang semua alat. Riki berkata, "Kelas-kelas kita itu semuanya terbuka untuk umum, nggak ada spesifikasi apa pun, semuanya terbuka." Ia senang banyak masyarakat yang antusias terhadap kelas ecoprintnya. Paling banyak, terdapat 1300 peserta dalam satu acara. Ke depannya, Studio Kriya Tekstil ingin fokus mengajari ecoprint ke sekolah-sekolah. "Khususnya sekolah TK atau sekolah-sekolah dasar karena menurut aku penting banget ngajarin hal-hal seperti ini, karena kan motorik, sensorik, itu penting buat anak-anak ya," ucap Riki. Macam-macam material fesyen berkelanjutan. dok. Yasni* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
jenis bunga untuk ecoprint